Dalam segmen Word of the Day edisi 9 Juni, Peter Sokolowski memperkenalkan kata sifat yang cukup formal namun penting untuk dikuasai, yaitu deleterious. Kata ini dieja D-E-L-E-R-I-O-U-S dan sering digunakan dalam konteks penulisan maupun percakapan formal untuk menggambarkan sesuatu yang bersifat merusak atau berbahaya.
Secara etimologis, kata deleterious berakar dari bahasa Yunani yang berarti 'melukai'. Namun, yang membuat kata ini unik bukanlah sekadar sifat 'merusak' tersebut, melainkan cara kerjanya. Berbeda dengan efek instan yang kita rasakan saat menekan tombol delete pada papan ketik, deleterious merujuk pada dampak yang sering kali bersifat subtle (halus), unexpected (tidak terduga), slow-acting (bekerja perlahan), atau not readily apparent (tidak langsung terlihat jelas).
Untuk memahami bagaimana kata ini diterapkan, kita bisa melihat contoh dari Nola.com yang dibahas dalam podcast tersebut:
"Canceling email addresses used by alumni over many years could have deleterious consequences for professional networking..."
Dalam kalimat tersebut, penghapusan alamat email alumni digambarkan memiliki konsekuensi yang deleterious bagi jaringan profesional. Dampak ini tidak terjadi seketika, melainkan merupakan proses perlahan yang merusak koneksi di tengah disrupsi karier yang dipicu oleh perkembangan kecerdasan buatan (AI rollout).
Meskipun tergolong kata formal, deleterious bukanlah kata yang asing dalam media populer. Penggunaannya sering muncul dari karakter-karakter yang digambarkan sebagai sosok intelektual atau wonky characters. Sebagai contoh:
Secara keseluruhan, deleterious adalah istilah yang sangat tepat untuk mendeskripsikan kerusakan yang tidak kasat mata. Dengan memahami bahwa kata ini menekankan pada aspek bahaya yang tersembunyi atau muncul secara perlahan, pengguna bahasa dapat lebih akurat dalam menyampaikan argumen mengenai konsekuensi jangka panjang dari suatu tindakan atau kebijakan. Bagi siapa pun yang ingin memperkaya kosakata formal, deleterious adalah tambahan yang sangat bernilai.